Header Ads

Siapa Bilang SBY Nggak Hebat? Ini Buktinya!

Angkringan.xyz - Belakangan kita sering melihat kembali tampilnya mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di ranah publik entah itu di televisi maupun di media sosial. Kebetulan memang salah satu anak lelakinya yang dibanggakan turut serta dalam kemeriahan Pilkada Gubernur DKI 2017. Dan mungkin ini juga yang membuat nama SBY, demikian kita biasa memanggilnya, kembali sering terdengar di telinga kita.


Sebenarnya ini nggak ada hubungannya dengan Pilkada 2017. Saya hanya ingin bercerita ternyata dibalik pro kontra yang muncul di kalangan netizen dan warga angkringan tentu saja, SBY mempunyai kehebatan tersendiri dibandingkan dengan mantan Presiden yang lain dan juga Presiden yang sekarang yaitu Jokowi.

Nah, mesti anda agak-agak nggak percaya kan?

Percayalah, meskipun saya nggak suka sama SBY apalagi anaknya, saya tetap obyektif mengatakan hal ini. Bahwa SBY pernah mencatatkan dirinya sebagai Presiden dengan angka rasio utang terhadap PDB paling rendah.

Sekarang kita lihat satu per satu dari mantan Presiden Soeharto, karena saya tidak ada data dari Presiden Soekarno.

Soeharto

Saat itu, Presiden ke-2 Soeharto yang lengser di Mei 1998 meninggalkan utang Rp 551,4 triliun atau ekuivalen US$ 68,7 miliar. Saat itu, rasio utang mencapai 57,7 persen terhadap PDB.

BJ Habibie

Pemerintahan selanjutnya yang dipimpin BJ Habibie (1998-1999). Di periode 1999, total outstanding utang Indonesia mencapai Rp 938,8 triliun atau setara dengan US$ 132,2 miliar. Rasio utang membengkak jadi 85,4 persen dari PDB.

Gus Dur

Tampuk kepemimpinan berikutnya beralih ke tangan Gus Dur (1999-2001). Nilai utang pemerintah membumbung tinggi di periode 2000 menjadi Rp 1.232,8 triliun, namun dalam denominasi dolar AS, jumlahnya turun menjadi US$ 129,3 miliar. Ketika itu, rasio utang makin parah menjadi 88,7 persen.

Kemudian di 2001, rasio utang turun menjadi 77,2 persen. Hanya saja, nilai outstanding utang naik tipis menjadi Rp 1.271,4 triliun atau US$ 122,3 miliar.

Megawati

Gus Dur mundur dari kursi kepresidenan pada 2001 dan digantikan Megawati Soekarnoputri (2001-2004). Pada era pemerintahan anak dari Presiden ke-1 Soekarno itu, posisi utang Indonesia dan rasio utang terhadap PDB, meliputi:

2002: Rp 1.223,7 triliun atau US$ 136,9 miliar, rasio utang 67,2 persen
2003: Rp 1.230,6 triliun atau US$ 145,4 miliar dan rasio utang 61,1 persen
2004: Rp 1.298 triliun atau US$ 139,7 miliar, rasio utang 56,5 persen

SBY
rasio-utang-terhadap-pdb
Info Grafis (sumber: katadata.co.id)

Di masa pemerintahan SBY, rasio utang dan nilai utang Indonesia mencapai:

2005: Rp 1.311,7 triliun atau US$ 133,4 miliar, rasio utang 47,3 persen
2006: Rp 1.302,2 triliun atau US$ 144,4 miliar dengan rasio utang 39 persen
2007: Rp 1.389,4 triliun atau Rp 147,5 miliar, rasio utang 35,2 persen
2008: Rp 1.636,7 triliun atau Rp 149,5 miliar, rasio utang 33 persen
2009: Rp 1.590,7 triliun atau US$ 169,2 miliar, rasio utang 28,3 persen
2010: Rp 1.681,7 triliun atau US$ 187 miliar, rasio utang 24,5 persen
2011: Rp 1.809 triliun atau US$ 199,5 miliar, rasio utang 23,1 persen
2012: Rp 1.977,7 triliun atau US$ 204,5 miliar, rasio utang 23 persen
2013: Rp 2.375,5 triliun atau US$ 194,9 miliar, rasio utang 24,9 persen
2014: Rp 2.608,8 triliun atau US$ 209,7 miliar, rasio utang 24,7 persen.

Jokowi

Di akhir 2015, utang pemerintah pusat naik menjadi Rp 3.165,2 triliun atau US$ 229,44 miliar. Rasio utang terhadap PDB meningkat menjadi 27,4 persen.

Total outstanding utang pemerintah sepanjang 2016 tercatat naik lagi menjadi Rp 3.466,9 triliun atau setara dengan US$ 258,04 miliar. Rasio utang 27,5 persen dari PDB.

Jika dilihat sejarah utang dari era orde baru sampai saat ini, meskipun secara nilai utang naik, akan tetapi rasio utang pemerintah Indonesia terhadap PDB masih jauh dari batas maksimal yang ditetapkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara sebesar 60 persen terhadap PDB.

Lho apa nggak hebat itu SBY mampu mencatatkan rekor rasio utang terbaik pada tahun 2012 yaitu sebesar 23 persen.

Nah sekarang masalahnya ada pendapat lain tentang rasio utang pemerintah. 

Adalah sebuah koalisi yang bernama Koalisi Anti Utang atau disingkat KAU. Iya KAU, bukan AKU atau DIA.

KAU keberatan dengan prinsip rasio utang terhadap Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB). Ini dia alasan keberatan KAU dengan prinsip tersebut.

Rasio utang terhadap PDB berarti menggambarkan bahwa pemerintah suatu negara mengalami beban utang, bukan menggambarkan pemerintah memiliki kemampuan pembiayaan anggaran. Ini disampaikan oleh Ketua KAU yaitu Dani Setiawan di Badan Anggaran DPR RI, Senayan, Jakarta pada hari Jumat 12 Desember 2012. Aliasnya tepat pada SBY mencetak rekor terbaik rasio utang terhadap PDB yaitu pada tahun 2012.

Namun hal ini seakan menunjukkan beban utang meningkat terus, meski rasionya turun tapi kemampuan fiskal untuk semakin berat bayar cicilan pokok dan utang.

Kira-kira begini penjelasan dari Dani Setiawan kala itu:
"Jadi yang dipakai itu bukan debt to GDP rasio, tapi beban pembayaraan utang terhadap belanja negara. Jadi kalau belanja utangnya itu jadi salah satu indikator, berapa triliun dikeluarkan oleh pemerintah untuk bayar utang dan berapa belanjanya?" kata dia.
Dani menjelaskan, cara penghitungan debt to GDP, pemerintah menggunakan strategi net negatif flow pembayaran utang lebih banyak dari penarikan utang baru lalu pertumbuhan ekonomi digenjot.
"Pertumbuhan ekonominya tinggi, pembayaran utang besar, otomatis debt to GDP turun, tapi sama sekali tidak mencerminkan beban yang harus ditanggung dalam pembayaran utang," tukas dia.
 Terlepas dari pernyataan KAU tadi, terbukti SBY lebih hebat dari mantan Presiden siapapun dan Jokowi Presiden kita saat ini.

Tinggal sekarang, rasio utang terhadap PDB pemerintahan Jokowi kira-kira akan terus naik atau bagaimana?

Yang jelas saya nggak punya jawabannya, tapi ternyata Bu Menteri Keuangan Sri Mulyani punya jawabannya. Padahal saya nggak tanya lho, kok Bu Menteri menjawab ya..

Pemerintah selalu menjunjung prinsip kehati-hatian dalam mengelola utang secara bijaksana. Karena masalah utang sangat sensitif dan selalu disoroti oleh masyarakat

Kehati-hatian tersebut tercermin dari terjaganya rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yang saat ini termasuk salah satu yang terendah di dunia.
“Dari sisi exposure utang, Indonesia di bawah 3 persen (dari PDB),” tegas Menkeu saat memberikan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Malang pada Rabu (28/12).
Angka tersebut, lanjut Menkeu, masih lebih rendah jika dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Filipina. Bahkan, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan rasio utang negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang.
“Negara kaya seperti Amerika dan Jepang, Jepang itu rasio utangnya mencapai 250 persen dari GDP, Amerika sekarang mendekati 100 persen. Kalau Presiden terpilih Trump kalau programnya terus menaikkan belanja dan mengurangi pajak, maka nanti utangnya akan naik,” urainya.
Selain rasio utang terhadap PDB yang relatif rendah, Menkeu juga mengungkapkan bahwa tingkat utang publik Indonesia menunjukkan tren penurunan dibandingkan satu dasawarsa lalu.

Oleh karena itu, Menkeu mengajak masyarakat pada umumnya, dan mahasiswa pada khususnya untuk melihat utang pemerintah secara objektif.
“Jadi saya ingin sampaikan memang negara harus berhati-hati dalam mengelola utang, tapi kita juga harus tempatkan ini sebagai satu instrument yang harus dilihat secara objektif. Kalau nggak mau utang, ada dua konsekuensinya, bayar pajaknya naik atau belanjanya dikurangi,” jelasnya.

Dus,

Siapapun presidennya, Indonesia akan tetap selalu utang.

Idealnya memang nggak punya utang, tapi lha wong negara kaya seperti Amerika dan Jepang saja punya utang kok. Tapi lucunya (lucunya bakul angkringan jangan samakan dengan lucunya politisi atau ekonom ya) Amerika dan Jepang yang punya rasio utang luar biasa juga bisa ngutangi Indonesia.

Biar kesimpulannya nggak melenceng jauh dari judulnya, akhir kata saya katakan SBY memang hebat. Ini nggak pada tahu lho orang Indonesia dan para pendukung Ahok kalau SBY punya prestasi seperti ini. Cuma anda yang saya kasih tahu.

Ya sudahlah, sampai disini cerita saya tentang utang. Saya sendiri juga sedang pusing mikirin utang.


[sumber 1]
[sumber 2]
[sumber 3]
[sumber 4]

No comments:

Powered by Blogger.